| Apalagi saat ini motor terbarunya F1Z-R lansiran ‘02, diriset oleh Andriansyah, mekanik Suzuki Denso Felix Racing Team, Jakarta. Biaya satu motor ditafsir habis Rp. 50 juta, mulai beli dari toko sampai ganti-ganti part racing. Bukan cuman mesin aja yang dioprek, bagian rangka oleh Andriansyah juga dibenahi. Lengan ayun diperkokoh dengan adanya tambahan plat 1,5 mm disekitar dudukan sokbeker belakang. Rangka motor juga dibikin kokoh, diberi lapisan plat dibagian dalam, “penting sekali untuk rebahan di tikungan,” terang Andriansyah ditirukan Aan. Masalah pengabutan dicermati oleh Andriansyah. Karbu pake Mikuni plate 24, tipe Sudco lisensi Amerika dengan setingan pilot jet 25 dan main jet 230, alasannya karbu ini mempunyai jarak venturi yang cukup pendek. Dudukan jarum skep ukuran Q-0, kalau jarum skepnya 5N-13, pilihan akurat membaca irama mesin. Diteruskan oleh pipe inlet Daytona. Konstruksinya lebih pendek dan diameternya lebih besar dengan posisi agak menyerong keluar. Membran diadopsi dari Daytona juga, dengan type double reed valve. Lidah stoper ditekuk hingga 10,5 mm di setiap masing-masing plat lidah stoper. So pasti, buka tutup karbon dapat lebih maksimal menghantarkan gas baru yang akan diproses. Menghindari berkurangnya tenaga saat motor berada pada putaran tinggi itu sangat penting cerocos Kiqy pendamping Aan, maka ruang bilas diperhalus. Terowongan ruang bilas yang dipoles tadi disejajarkan dengan mulut crank case yang juga dipoles. Jendela ruang bilas, cuman dinaikkan 1,5 mm. Silinder cop nganut kompresi sedang, perbandingan kompresi dihasilkan 7,7 : 1. Stamina mesin jadi lebih tahan untuk putaran atas, nggak cepet ngedrop. Piston mengadopsi milik FIZ merk Daytona oversize 50 dengan diameter 52,5 mm. Ternyata piston yang terlalu gede, tidak sesuai dengan suhu kota di Jatim. Jadi tiap turun balap bawa persediaan blok silinder serta piston. Paling-paling bawa blok silinder over size 0.25 dan 0.50. “Dijamin deh jika dibarengi dengan ukuran suhu pasti ada untungnya,” terang Aan. Jika suhu sekitar sirkuit panas, paling-paling pakai piston 0.25, lebih stabil berada di putaran atas, sesuai dengan bawaan underbone yang selalu minta di rpm tinggi, kalau suhu dingin, ya sebaliknya. Penghubung piston dengan stang tetap standard, cuman perubah gerak bolak balik piston jadi gerak putar. Kanan kirinya dicangkoki bearing high speed. Kelanjutannya saluran buang dibengkakan untuk membantu melegakan pembuangan gas bekas. Dinding bibir atas, jika diukur dari bibir silinder tinggal 26 mm. Penerus saluran buang yang terakhir, mencomot knalpot “YY-Pang” orsi Malaysia. Knalpot ini bisa bantu mekanik, dengan model sirkuit di Jatim, dapat sedikit adaptasi yang kebanyakan tak butuh putaran menengah lebih banyak. Untuk urusan transmisi, dipercayakan inspirasi Andriansyah, “rahasia dapur pacu,” tutur Aan, saat dikonfirmasi otre di beranda rumahnya. Kalau baca larinya, perbandingan gigi I agak berat, gigi 2 dan 3 speed keluar, kalau gigi 4 kelihatannya masih nerusin dari akselerasi gigi 3. Setingan final gir penggerak roda 13-40, bantu mempercepat keluar tikungan di rpm 5000. Gigi primer pake standar, rangkaian kopling house standar, kampas kopling bikinan CMS. Rangkaian pengapian lengkap ngandalkan milik Yamaha YZ-80 langsiran ‘02, mulai dari magnet, spul, fulser, cdi dan koil. Sistem pengapian ini membantu menyempurnakan pembakaran, di samping itu juga membantu kestabilan putaran mesin pada rpm atas. Fulser digeser 0,8 mm sebelum TMA, mempercepat putaran mesin waktu masih di rpm 3000. Lumayan Jatim kini punya jagoan, hadapi pembalap Jateng Aan tak pernah gentar. Walaupun pesaingnya RG-Sport aksi rolling speednya di tikungan bikin penonton histeris, dan penunggang RG-Sport acap dibikin kalang kabut. |
No comments:
Post a Comment